Wednesday, November 9, 2011

BELAJAR SAMPAI KE CHINA

"Tuntutlah Ilmu walau sampai ke negeri China" hadist yang sering kita dengar untuk memotivasi bagi Muslim untuk terus belajar menjadi yang terbaik dalam berbagai hal. Walau hadist tersebut setelah diteliti oleh para ahli hadist statusnya dhoif (lemah) dan tidak bisa dijadikan hujjah (dasar/dalil) bagi Muslim


Saya tidak ingin berpolemik tentang dhoifnya hadist tersebut karena memang bukan ranah kompetensi saya, tapi saya hanya ingin belajar dari saudara etnis China yang saat ini menjelma menjadi penguasa dunia dalam bidang ekonomi, tidak perlu jauh-jauh pergi ke negara China, cukup kita amati kuat dan sukses saudara kita etnis China mendominasi peran bidang ekonomi di Indonesia.
  • Saudara kita etnis China sejak republik ini berdiri, perannya "dibatasi"  oleh penguasa negara kita jaman dulu, mereka tidak bisa menjadi PNS, TNI/POLRI atau pejabat publik lainnya. Kondisi ini mendorong mereka mencari peran lain yang saat itu jarang di lakoni kaum pribumi yang lebih memilih menjadi PNS atau pegawai. Peran tersebut yaitu di bidang perniagaan atau bisnis, maka wajar hasilnya saat ini saudara etnis China mendominasi perniagaan yang mereka bangun sejak awal sejarah negara ini.
  • Sejak saya kecil orang tua selalu bilang "Sekolah yang jujur, nanti jadi PNS atau pegawai yang gajinya tetap dan dapat pensiun". Berbeda dengan saudara etnis China supplier yang menasehati saya "Kalau mau kaya, daganglah". Mereka bentuk anak-anak dengan kultur dagang yang kuat. Rutin saya lihat anak-anak mereka ikut sibuk di toko membantu orang tuanya walau hanya sekadar membungkus atau bermain, tapi dinamika bisnis sudah mereka rasakan sedari kecil dan itu adalah modal pondasi terbesar untuk seorang Entrepreneurs. Berbeda dengan kita yang setelah kerja lalu karena jenuh dalam bekerja, baru kepikiran berbisnis. Belum terlambat, tapi kita ketinggalan puluhan step dari saudara etnis China.
  • Sebagai imigran, kondisi sulit, termarginalkan dan terpepet, menjadikan saudara etnis China  "strugle, disiplin dan pekerja keras". Banyak cerita hebat mereka hanya makan bubur atau menjadi kuli panggul, saat awal-awal membangun bisnis, mereka jarang hamburkan uang untuk lifestyle seperti yang sering kita lakukan. Kondisi terdesak inilah yang akhirnya mengeluarkan seluruh potensi diri menjadi yang terbaik di bidang perniagaan.
  • Persaudaraan yang kuat sangat dijaga oleh saudara etnis China, wajar karena minoritas mereka saling tolong-menolong dalam bisnis. Jangan heran bila tiba-tiba buka sebuah toko dengan barang yang berdatangan dengan cepat ke tokonya sehingga langsung penuh dan ramai. Setelah saya selidiki ternyata para supplier adalah saudara atau teman etnis China lain yang mensupplai untuk kemajuan saudaranya.  Subhanallah.....
  • Persaudaraan yang kuat juga mendorong saudara etnis China saling menjaga dalam bisnis. Coba saja datang ke jalan ABC pusat perkulakan barang elektronik di kota Bandung, mereka membuat komunitas yang benama ABC Grup, sehingga kita tidak akan menemukan banting-bantingan harga walau toko mereka saling berdempetan kiri-kanan-depan-belakang. Luar Biasa........


Sahabat, coba perhatikan kelebihan saudara etnis China diatas, sesungguhnya tanpa mereka sadari telah melaksanakan perintah Allah dan Rosul dalam hal mencari nafkah dan hal lainnya, mari kita bedah:
  • Rosulullah SAW dalam sebuah hadist bersabda "Sembilan dari sepuluh pintu rizki ada dari perniagaan/bisnis" artinya pintu rizki kaum pribumi yang umumnya menjadi pegawai hanya 1/10 dari saudara etnis China sebesar 9/10 maka wajar bukan mereka mendominasi perekonomian negeri ini. 
  • Sejarah para nabi sebelumnya dan para sahabat sedari kecil telah terdidik dengan bekerja pada umumnya menggembala ternak atau berniaga. Rosulullah SAW sejak usia 8 tahun sudah menggembala kambing dengan sang kakek, usia belasan tahun sudah ikut berniaga bersama pamannya. Sejalan dengan saudara etnis China yang sedari kecil sudah terlatih, maka saat mereka besar sudah bukan lagi masa latihan atau percobaan seperti yang pada umumnya kita lakukan saat ini karena kita sedari kecil sudah bermindset atau dibentuk mental sebagai pegawai.
  • Kesulitan dan kerasnya hidup adalah sahabat para nabi, sabahat dan salafus shalih sebelum kita. Sebagai contoh sahabat Abdurahman bin Auf saat berhijrah dari Mekah ke madinah setelah menolak bantuan gratis dari sahabat ansor, beliau bekerja keras menjadi kuli angkut di pasar Madinah dan tidak lama menjelma menjadi pedagang paling sukses dalam sejarah perniagaan kaum muslim. Sama seperti saudara etnis China sebagai imigran mereka berjuang dan bekerja keras meraih kesuksesan di negeri ini.
  • Dalam Islam persaudaran adalah hal wajib yang harus dijaga setiap Muslim. Puluhan ayat quran dan hadist yang menekankan pentingnya persaudaraan Islam atau Ukhuwah Islamiyah sebagai pondasi yang mempersaudarakan seluruh umat Muslim di seluruh dunia. Semagat ini ternyata sukses dijaga oleh saudara etnis China yang saling tolong-menolong dan menjaga sesama mereka untuk maju dalam bisnisnya. Ironis bukan, karena kaum muslim telah dibekali Allah dengan dalil tertulis yang bahkan kita baca ayatnya tiap hari dalam Al Quran dan atau hadist, tapi implementasinya ibarat Jauh Panggang dari Api.
Sahabat khususnya yang bercita-cita menjadi Muslimpreneurs, hendaknya dari sekarang kita sadar dan bangkit, untuk mengejar ketertinggalan dari saudara etnis China. Tidak ada kata terlambat dan malu untuk belajar. Tanpa malu kondisi diataslah yang mendorong saya "Nekat" resign dari belasan tahun berkarier di Bank sebuah jabatan paling didambakan jutaan orang apalagi orang tua yang tentunya bangga punya anak pejabat bank.  Karena kultur pula orang tua kita kebingungan menjawab pertanyaan apa profesi anaknya? kata Pedagang masih malu-malu diucapkan orang pribumi, padahal Rosulullah adalah Pedagang sukses dengan jabatan CEO of Khadijah Trading Company.

Sahabat, persaudaraan atau ukhuwah Islamiyah yang seolah menghilang saat ini dalam diri kaum Muslim hendaknya kita bangun lagi mulai lingkungan terkecil, dengan dasar Iman, insya Allah hati kita akan disatukan dengan proses silaturahim akan saling mengenal (Ta'aruf) lalu akan menciptakan kefahaman (Tafahum) dan akhirnya tolong-menolong (Ta'awun).

Salam Semangat, Barokallah Sukses untuk Sahabat Semua

Budi Cahyadi

Tuesday, November 8, 2011

UNTUNG BESAR DAN CEPAT

Siapa yang tidak mau, usaha yang kita jalankan berkembang cepat, penjualan melejit dan keuntungan besar! fantastis bukan?. Untuk itulah banyak para pengusaha melakukan segala hal untuk meraihnya apalagi dengan fenomena teknologi internet, hal tersebut saat ini bukan hal yang mustahil, saat ini banyak sekali tumbuh entrepreneurs muda sampai dengan "artis dadakan" karena internet, menyilaukan sekaligus menjadi pendorong generasi muda meraih sukes.


Tapi saat terjun ke sektor riil bisnis ternyata kenyataanya tidak semudah yang dibayangkan, kesuksesan ternyata memerlukan perjuangan, pengorbanan besar, kerja keras, waktu, tenaga, fikiran, hati bahkan kerugian modal. 
Tidak heran banyak yang melakukan cara-cara tidak fair untuk meraih kesuksekan dengan cepat yang tercermin dalam strategi dan transaksi bisnis yang dilakukannya. Beberapa contoh praktik tidak fair dalam bisnis yang sering dilakukan para pebisnis sebagai berikut.


  • Fiction Testimonial, yaitu teknik membayar tokoh yang memiliki network luas untuk mempromokan produk kita tanpa pernah tahu apakah tokoh tersebut pernah menggunakan produk kita tahu kualitas dan spesifikasi lainnya. Walaupun teknik ini dianggap wajar di kalangan ahli marketing, tapi berbohong adalah dosa besar yang paling dibenci Allah.
  • Fenomena media sosial seperti twiiter atau facebook menawarkan kekuatan baru yang tidak terbatas untuk meraih network luas yang memudahkan kita menjual produk, maka tidak heran para pebisnis rela membayar ahli internet untuk menambah frends atau follower dalam waktu yang cepat. Jadi jangan heran bila tiba-tiba frend request di akun FB atau akun twiiter kita menjadi follower akun lain tanpa pernah kita melakukannya. Walau terlihat keren di mata praktisi pemasaran tapi tidak di mata Allah, karena curang sifat yang dibenci Allah.
  • Teknologi internet pula yang mendorong investasi penipuan Money Games (Ponzy/Piramida) dengan mendopleng teknik pemasaran ala Multi Level Marketing merajalela. Hampir tiap hari e-mail saya terima tanpa tahu siapa yang mencatut alamat email saya menawarkan bisnis investasi yang sangat-sangat menggiurkan, seperti contoh sebuah perusahaan bernama PT Transja**kom** menawarkan investasi syariah menawarkan keuntungan sebesar 300% per tahun hanya dengan investasi sebesar Rp. 10 juta saja. Atau Speed**ne sebuah "MLM" dari Inggris menawarkan profit investasi yang fantastis. Tidak heran orang awam yang berfikiran pendek pasti langsung mendaftar. Tidak cukup ternyata pengalaman buruk dan cerita tragis seperti PT Qisar di Sukabumi yang menghebohkan dan merugikan masyarakat beberapa waktu lalu.  
Sahabat! Allah dan Rosulnya tidak pernah melarang kita menjadi kaya raya dalam waktu singkat, yang Allah dan Rosulnya larang adalah kita bertransaksi secara curang dan bohong yang merugikan orang lain bahkan masyarakat umum. 

Sahabat, takutlah dengan sebuah peringatan dari Rosulullah SAW dari Abu Dzar Al Ghifari bahwa:
"Di akhirat kelak ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah, maka celakalah orang yang termasuk dalam golongan tersebut menjadi ahli neraka, salah satunya adalah "PEBISNIS YANG BERTRANSAKSI BOHONG DAN CURANG".

Wallahualam Bishowab

Salam Semangat, Barokallah Sukses untuk Sahabat Semua

Budi Cahyadi

Sunday, November 6, 2011

SOLUSI DALAM MASALAH

Belasan tahun lalu saat masih bekerja sebagai Internal Auditor, bukan hanya identifikasi permasalahan, pelanggaran atau kerugian yang terjadi dalam perusahaan, tapi sekaligus mencari solusi atas kondisi tidak ideal tersebut.
Dalam mencari solusi seorang auditor harus selalu menggunakan filosofi Kill The Spider, yaitu bila kita melihat sarang laba-laba yang mengotori rumah, jangan hanya dibersihkan saja, tapi basmi sekaligus laba-laba penyebab timbulnya sarang yang mengotori rumah kita, atau bila melihat air di lantai saat musim hujan, jangan hanya di pel lantai tersebut tapi perbaiki genteng bocornya.


Setelah menjadi wirausaha, saya bukan lagi sekadar seorang Internal Auditor yang menemukan permasalahan sekaligus solusinya, tapi menjadi pelaku atau bahkan sumber permasalahan yang terjadi dalam perusahaan yang saya jalankan. Dengan perusahaan yang baru tumbuh, permasalahan adalah sarapan pagi, kesulitan adalah menu hariannya. Suka tidak suka, mau tidak mau menu sarapan permasalahan dan kesulitan tersebut harus kita "nikmati" untuk kita cari solusinya baik jangka pendek, menengah atau final solution.


Wirausaha atau bisnis adalah sebuah proses belajar, setiap kesulitan pasti ada solusinya seperti setiap penyakit pasti ada obatnya, begitu pula dalam kesulitan pasti ada kemudahan. Proses belajar inilah yang akan membuat kita dewasa dalam segala segala hal berhubungan dengan bisnis atau kehidupan pribadi. Karena bisnis adalah sebuah proses belajar, maka setiap permasalahan dan solusi yang kita lakukan menjadi literatur dan pengalaman (ibroh) untuk tidak terjadi lagi di masa yang akan datang, sedangkan kesulitan dan jalan keluar yang kita ikhtiarkan menjadi sebuah pijakan penting untuk naik levelnya usaha kita.


Sebagai contoh saat masih bekerja, tahun 2003 saya membuka usaha sampingan bidang customizing furniture, berbekal suka dunia pertukangan dengan Nol pengetahuan, maka permasalahan, kesulitan dan kerugian materi adalah menu harian yang harus saya hadapi dan dicari solusinya. Pelajaran terbesar yang saya dapatkan dari pengalaman bisnis sampingan tersebut adalah "BUSINESS PLAN & FOCUS". Karena saya masih bekerja sehingga no business plan dan tidak focus, setiap solusi yang dipilih atas setiap permasalahan dan kesulitan selalu jangka pendek dan tidak membasmi sarang laba-laba. Akibatnya beberapa waktu kemudian permasalahan serupa terjadi bahkan dalam skala lebih komplek.


Setelah saya berhenti bekerja dan mulai focus membangun bisnis yang awalnya sampingan menjadi bisnis utama, maka saya mulai Re-Design Business Plan dengan sebuah solusi final atau jangka panjang. Sebagai contoh, permasalahan utama bisnis Customizing Furniture adalah sumber daya manusia tukang kayu yang semakin langka, karena generasi muda yang berminat menjadi tukang kayu semakin berkurang, sehingga tukang kayu hanya berkutat di lingkaran pengusaha furniture, akibatnya saling "bajak" tukang kayu handal menjadi menu sarapan tambahan. Efeknya untuk para pengusaha adalah pricing tukang kayu menjadi mahal kadang tidak rasional yang merugikan tapi menjadi berkah tersendiri bagi tukang kayu yang meningkat kesejahteraannya.


Yang unik dalam mengelola bisnis bidang pertukangan adalah tenaga tukang yang umumnya berasal dari daerah dengan pendidikan rendah, sifat egois mendominasi dan sulit diajak berdiskusi tentang permasalahan dan solusi bisnis, di benak mereka hanya "mendapat penghasilan sebesar-besarnya", datang dan pergi semau mereka. Yang paling lucu adalah bila mereka mendapat tawaran lebih besar dari workshop lain, mereka pasti pindah, tapi jangan heran suatu saat tiba-tiba mereka datang dengan memelas meminta pekerjaan. Hmm kadang saya hanya mengurut dada saja..


Untuk memecahkan masalah tersebut saya benar-benar belajar dan belajar karena  ingin mencari final solution, business plan saya susun dengan sebaik-baiknya, step by step strategi saya jalankan, hingga satu titik kesimpulan adalah saya harus menjadi pengusaha yang berorientasi masa depan yang berhubungan dengan bidang usaha customizing furniture, membuat sebuah standard terkait proses produksi, merubah manual production menjadi machinal production, ikatan kerja yang saling menguntungkan antara pengusaha dan para pekerja, tunduk dalam Prosedur, Aturan dan Kebijakan (SOP) yang ditetapkan perusahaan. Seluruh SOP tersebut harus saya susun atas dasar keimanan kepada Allah dengan sebuah visi agung yang selalu saya gaungkan ke siapa saja yaitu Visi Bertemu Allah di Surga.  


Business plan di susun, strategi ditetapkan, proposal disiapkan untuk saya ajukan kepada Allah SWT sang pemilik dan pengatur segala urusan dunia, kita manusia hanya berdoa, berencana dan ikhtiar, sedangkan hasilnya kita tawakal kepada Allah saja karena Allah maha tahu mana yang terbaik untuk hambanya yang berusaha terus mendekat kepadaNya. Cukup bagi saya firman Allah sebagai penghibur dan penjaga semangat dan rasa optimis bahwa usaha kita Insya Allah berkah adalah: 


"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap." QS Alam Nasrah: 5-8.


Salam Semangat, Barokallah sukses untuk sahabat semua.




Budi Cahyadi 

Friday, November 4, 2011

AL QURAN YANG MENYEJUKAN HATI DAN MATA

Tahun 2008 saat saya masih jadi bankir syariah, membiayai bidang usaha nasabah yang berhubungan dengan Islam selalu bikin saya semangat. Sebut saja publishing buku-buku Islami Al Quran, busana muslim, jilbab, makanan halal, BMT dan lain-lain karena selain mendapat saudara baru juga menjadi lahan dakwah, amin.

Setelah saya berwirausaha, salah satu nasabah yang pernah saya biayai bergerak di bidang publishing mengirimkan produk Al Quran ke kantor saya di Bandung. Al Quran yang diberi nama Al Quran Cicero sesuai nama perusahaan penerbitannya sekarang ada di depan meja untuk menjadi amanah yang harus saya baca, tadaburi dan amalkan. 


Tanpa nunggu lama Al Quran tersebut segera saya buka dan baca, cetakan huruf yang jelas di atas kertas berkualitas tinggi, dengan tanda baca yang mudah difahami membuat tilawah Al Quran terasa lebih nikmat dan lancar. Terhenti bacaan saya saat melihat ayat-ayat yang diberi tanda warna yang berbeda. Setelah saya lihat footnote ternyata saya membaca ayat-ayat yang merupakan doa-doa para nabi dan sholihin kepada Allah. Subhanallah ternyata dengan keterbatasan saya selama ini membaca Al Quran melewatkan bacaan yang ternyata doa-doa yang langsung dicontohkan para nabi dan orang-orang sholeh terdahulu.


Saya dikirim tiga sample Al Quran edisi doa tersebut dengan tiga ukuran berbeda.



Al Quran pertama dengan ukuran besar yang sangat nyaman untuk dibaca para orang tua dan pembaca, menunjang kelancaran karena huruf dan tanda baca lebih jelas dan mudah terbaca.


Selain kualitas cetakan yang jelas, menarik melihat sampul Al Quran ini adalah sampul yang sangat indah dan modern, kualitas kertas sampul yang kuat dan ekslusif, menunjukan kekuatan designer dari perusahaan publishing tersebut.


Dengan harga Rp. 150.000/pcs sangat layak menjadi sahabat menemani tilawah kita di rumah, mushola atau mesjid.




Al Quran ke dua dengan ukuran sedang sangat cocok untuk saya baca di rumah karena seperti buku yang biasa saya baca, cetakan jelas terlihat memudahkan saya membaca menambah kekhusuan.




Al Quran ke tiga dengan ukuran pocket sangat cocok saya bawa kemana-mana menemani aktivitas dimana saja, tinggal masukan ke dalam tas, saat senggang dimana saja tinggal buka dan baca, masya Allah nikmat mana yang akan kita ingkari. Terima kasih ya Rabb.

Quran pocket ini berbeda dengan Quran pocket yang biasa saya temui di pasaran. Bila sampul Al Quran pocket yang lain dengan kaligarafi timur tengah, Al Quran pocket produksi PT Cicero ini berkonsep design modern dan dinamis dengan pilihan warna Hitam, Hijau dan Putih-Merah.
Dengan harga Rp. 49.00/pcs sangat cocok untuk jadi teman abadi dunia akhirat.




Sahabat yang berminat menjadi agen dakwah dengan menjadi reseller silahkan menghubungi nomor kontak 08122193914 atau email ke admklinikbisnis@gmail.com untuk mendapat informasi harga, discount dan sistem kerjasama lainnya.


Hormat Kami




Klinik Bisnis

BERKURBAN SUPAYA TIDAK JADI KORBAN

"Alhamdulillah setelah setahun bekerja, tabungan cukup untuk beli satu ekor kambing", gumanku beberapa hari menjelang Iedul Adha. 
Sepulang kerja saat berjalan menuju pangkalan angkot melewati jalan ABC pusat perkulakan barang-barang elektronik di Bandung, tiba-tiba mata tertarik sebuah TV berbentuk bola, karena saat itu memang sedang seru-serunya piala dunia France 98. Termenung di depan etalase toko, dalam benak terjadi pergolakan dahsyat "Kurban kan bisa tahun depan, sedangkan piala dunia empat tahun sekali". Pergolakan tersebut terus berkecamuk mulai mengikis niat berkurban yang sudah direncakan setahun sebelumnya. 
Tapi Allah memang maha Penyayang memberikan pelajaran yang membuat saya tidak ingin menunda sebuah amal sholeh terutama kurban, beberapa hari menjelang Iedul Kurban penyakit Demam Berdarah mampir dan mengharuskan saya "nginep" di rumah sakit seminggu lebih menghabiskan seluruh tabungan yang diniat awalkan untuk berkurban terselewengkan niatnya dengan godaan TV.


Bank tempat saya bekerja dulu memiliki direksi yang berikan bonus menjelang Iedul Adha sehingga para karyawan dimudahkan membeli hewan kurban tanpa harus keluar dana dari dompet sediri. Ujian sesungguhnya terjadi saat direksi baru tidak lagi mengeluarkan kebijakan bonus menjelang Iedul Adha. Suara-suara ketiadakpuasan terdengar "Wah mulai tahun ini kita tidak bisa kurban nih karena bonus kurban dihapus". 


"Kurban dimana kang tahun ini?" tanya saya kepada driver kantor saat saya berdinas di sebuah cabang bank syariah di luar Bandung.


"Ahh pak, tidak mungkin pegawai seperti saya bisa berkurban, bayar anak sekolah saja saya sering pinjam sama bapak" jawab driver sambil nyengir.


"Berapa bungkus sehari habis rokok kang?' tanya saya melihat bungkus rokok merek paling mahal tersembul di saku bajunya.


"Paling satu atau satu setengah bungkus pak, tidak banyak-banyak, tidak seperti dulu bisa tiga bungkus sehari, sekarang lagi nyoba dikurangi, udah tua pak"


"Berapa harga sebungkus rokok tersebut sekarang kang?" tanya saya


"Sepuluh rebu pak" jawab driver kantor.


"Kang mau berkurban tahun depan?" tanya saya


"Mau dong pak, tapi uangnya dari mana pak?"


"Coba uang satu bungkus rokok tadi ditabung 5 ribu perhari, satu tahun Insya Allah dapat Rp. 1,8 juta sangat cukup untuk berkurban tahun depan" Tapi tetap saja driver tersebut merokok dan tidak berkurban tahun depannya.


Sahabat, menyembelih hewan kurban setiap tahun bukan sekedar laksanakan perintah Allah "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah" (QS Al Kautsar:2).


Bukan juga karena takut teguran keras Rosulullah SAW
"Barang siapa yang telah ada kelapangan (kemampuan untuk berkurban) namun ia tidak mau berkurban, maka jangan dekati tempat shalat kami"


Berkurbanlah karena Allah yang telah berikan nikmat tidak terhitung kepada kita "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak" (QS Al Kautsar:1)


Berkurbanlah untuk kesempurnaan amalan kita sesuai firman Allah
"Kamu sekali-kali tida sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai, dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." (QS Ali Imran: 92)


Sahabat, jangan jadikan diri jadi Korban syetan yang berbisik sayang uang hasil bekerja keras hanya untuk kurban tunggu saja kalau ada bonus dari kantor atau kalau dapat profit besar.


Sahabat jangan menjadi Korban hawa nafsu terhadap kebendaan dan dunia yang nilainya jauh lebih besar dari seekor hewan kurban. Jutaan muslim rela "membakar" uang demi sebungkus rokok setiap hari yang bila dikumpulkan mampu berkurban.


Jangan pula menjadi Korban lifestyle atau gengsi, hingga kita rela antri dan kuras tabungan demi sebuah Gadget terbaru semisal IPAD atau BB Dakota yang nilainya bisa untuk berkurban satu keluarga, padahal gadget lama masih sangat layak. Kata bang Rhoma Ter...la...luh....






Selamat memilih, apakah akan berKURBAN atau terus menjadi KORBAN.


Salam semangat, barokallah sukses untuk sahabat semua.


Budi Cahyadi 

Thursday, November 3, 2011

SHALAT DAN IKHTIAR

Sahabat semua tentu sudah mengetahui makna shalat yang minimal lima kali dan 17 rakaat kita lakukan dalam sehari. Saking rutinya semua gerakan dan bacaan wajib sudah kita hafal dengan baik, bahkan saking sudah "ahli"  shalat kita lakukan dengan cepat dan lancar seperti laju kendaraan di jalan bebas hambatan. (He.he.he.he semoga tersinggung)


Dari seorang sahabat, saya mendapat ilmu yang sangat langka tentang makna shalat yaitu, silahkan perhatikan gerakan ritual shalat yang rutin kita lakukan, apakah aktif atau pasif? 


Jawabannya tentu saja aktif bukan! 
Benar, gerakan ritual shalat yang rutin kita lakukan aktif mulai dari Takbir menggerakan tangan sejajar kepala, tangan sedekap, ruku, kembali tegak, sujud, duduk diantara dua sujud yang diakhiri dengan gerakan kepala ke kanan-kiri saat ucapkan salam, silkus gerakan tersebut kita ulangi secara rutin kita lakukan secara benar dan tummani'nah (tertib) seperti yang dicontohkan Rosulullah SAW.


Ada satu shalat yang gerakannya tidak aktif, yaitu shalat jenazah, hanya berdiri, lalu takbiratul ihrom, lalu tengok kanan-kiri saat ucapkan salam.


Sahabat, siklus ihidup itu seperti shalat! bergerak membentuk siklus yang terus bergerak dan berputar untuk mengelola alam semesta yang Allah wariskan kepada kita sebagai khalifah fiil ard. Bila saja kita berhenti bergerak, niscaya hidup kita  pasif hilang makna atau kita memang sudah dicabut nyawa. Banyak sekali Rosulullah dalam hadistnya menyebut keutamaan Mukmin yang berjihad, bekerja, berkeluarga, belajar terutama yang bermanfaat untuk orang lain, semuanya bergerak aktif bukan!


Begitu pula dengan bekerja atau berbisnis mencari rizki Allah, ibarat shalat, harus bergerak dan terus bergerak membentuk siklus sebagai suatu proses. Sesuai sunatullah, maka siapa yang bergerak berdoa, berfikir, mengkonsep, bekerja keras maka hasilnya bekerja atau bisnis akan kita dapatkan berupa gaji atau keuntungan usaha untuk bekal hidup kita di dunia.


Ritual gerakan shalat tersebut yang diringi dengan doa dan zikir kepada Allah akan maksimal hasilnya bila kita lakukan dengan khusuk, focus hanya kepada Allah. Wajar bila pelaku shalat khusuk terlihat jelas hasilnya dalam berbagai hal, keimanan dan kehidupan yang mantap karena begitu dekat pertolongan Allah kepadanya.


Mari kita tambahkan ikhtiar kerja atau bisnis kita dengan makna khusuk shalat tersebut, yaitu bekerja secara cerdas dan focus. Seluruh daya upaya kerja keras kita lakukan dengan cerdas dan focus untuk mencapai tujuan (goals) yang sudah kita rencanakan atau targetkan. Maka sunatullahnya, kesuksekan karier atau bisnis kita hanya tinggal menunggu waktu.


Jangan jadikan siklus kerja atau bisnis kita seperti gerakan shalat jenazah yang pasif, khawatir siklus kerja atau bisnis anda menuju arah tanpa makna atau mungkin menuju kematian (Bankrut).......


Wallahualam bishowab


Salam Semangat, Barokallah sukses untuk sahabat semua




Budi Cahyadi

Tuesday, November 1, 2011

VISI

Saat kita kecil kita atau anak-anak kita saat ditanya "Apa Cita-Citamu?" jawaban kita atau anak-anak pada umumnya hampir sama "Jadi Dokter, Pilot, Menteri, Presiden, profesor, Atlet berprestasi atau Pengusaha. Seiring bertambahnya usia, cita-cita tersebut mulai spesifik dan berubah sesuai jalur pendidikan, minat dan lingkungan yang mempengaruhi dan menentukan akan menjadi apa saat kita dewasa nanti. Dalam dunia manajemen modern saya menyebut cita-cita tersebut adalah VISI, sebuah kata sakral yang sangat dijunjung tinggi dan wajib ada dalam semua pribadi Profesional ataupun Entrepreneurs.

Tidak salah bila dalam menyusun Visi, seorang profesional atau Entrepreneurs yang berwirausaha pada umumnya adalah:

"Menjadi puncak tertinggi karier, CEO atau manager terbaik yang berhasil membawa perusahaan mencapai target dengan cepat"

"Menjadi Perusahaan terbesar, terhebat, tercepat dalam pencapaian asset, omzet, profit pendiriaan cabang dan lainnya"

"Menjadi Perusahaan Terbaik dalam bidangnya seperti Teknologi, Keuangan, Perbankan, Marketing dan lainnya."  

"Menjadi Perusahaan yang merekrut banyak tenaga kerja" serta visi-visi hebat lainnya.

Sahabat!, tahukah kita bawa ada sebuah Visi yang sangat Agung yang merupakan cita-cita tertinggi semua manusia beriman yang dilahirkan hidup di dunia ini? yang hanya bisa difahami dengan seiring bertambahnya usia, pengalaman, literatur dan makna hidup, bekerja atau bisnis yang membentuk kepribadian kita?

Visi tertinggi manusia adalah "BERTEMU ALLAH DI SURGA". 

Visi Surga ini 180% merubah seluruh hidup saya dan menstimulus seluruh organ tubuh, Akal dan Ruh untuk menyusun dan action untuk berikhtiar dan menjaga trek hidup menuju dan meraih Visi Surga tersebut.

Misi dan strategi saya susun untuk menggapai Visi Surga, sebagai berikut:

DUNIA, tempat kita dilahirkan dan hidup sampai kita dikubur kembali, saya ibaratkan sebagai "LAHAN KERJA" dengan berbagai potensi dan jalan menuju Surga yang penuh jebakan dan godaan yang melenakan kita dari visi Surga.

USIA, jatah usia yang Allah berikan kepada kita dari mulai dilahirkan sampai kematian menjemput kita, saya ibaratkan sebagai "MASA KERJA" yang waktunya terbatas dan harus kita manfaatkan semaksimal dan sebaik mungkin untuk meraih dan menjaga visi Surga.

AGAMA, sebagai seorang Muslim saya jadikan Islam adalah "STANDARD OPERATIONAL PROCEDURE" (SOP) hidup, yang wajib saya ikuti seluruh seruan dan perintah yang menjadi kewajiban serta menghindari seluruh larangan yang Allah firmankan dalam Al Quran dan atau Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai utusannya untuk menjadi panutan dan teladan manusia meraih dan menjaga visi Surga.


Strategi tersebut harus saya aplikasikan dalam Action sebagai berikut:

ACTION, bila selama di Dunia sebagai LAHAN KERJA, kita hidup, belajar, bekerja, berbisnis, berkeluarga, bermasyarakat, bersosial, berpolitik dan lain-lain dengan benar sesuai sunatullah, tidak terlena dan tergoda dunia, maka kita sudah di trek yang benar meraih Visi Surga.

ACTION, bila  jatah usia kita sebagai MASA KERJA kita gunakan sebaik-baiknya dan optimal untuk belajar, bekerja, berbisnis, berkeluarga, bermasyarakat, bersosial, berpolitik dan lain-lain, tidak buang-buang waktu, tidak gunakan waktu untuk bermaksiat dan kesia-siaan, maka kita sudah di trek yang benar meraih Visi Surga.

ACTION, bila Islam sebagai SOP hidup saya Imani dan saya jalankan sesuai pasal-pasal yang terdapat dalam Alquran dan Sunnah yang teraplikasikan dalam proses belajar, bekerja, berbisnis, berkeluarga, bermasyarakat, bersosial, berpolitik dan lain-lain, maka kita sudah di trek yang benar meraih Visi Surga.

GOALS, bila action kita sesuai dengan jalan yang Allah ridhoi, maka Pensiun Kita Insya Allah adalah SURGA. 

Sebaliknya bila action kita tidak sesuai dengan jalan yang Allah ridhoi, maka Pensiun Kita Insya Allah adalah di NERAKA.

Pilihan ada di tangan kita, tugas kita manusia sebagai makluk hanya menyusun Visi, Misi dan Action, sedangkan hasilnya hanya Allah yang tentukan ridho atau tidak, Allah hanya berikan parameter kepada kita untuk IKHTIAR.

Wallahualam bishowab

Salam Semangat, sukses untuk sahabat semua

Budi Cahyadi

Monday, October 31, 2011

IMAN DAN KEBERSIHAN

Picture Property: circuitstuck.blogspot.com
Sering saya menegur langsung bila melihat di jalan raya ada pengemudi atau penumpang yang membuang sampah ke jalan tanpa merasa sedikitpun besalah, atau ada orang yang dengan ringan membuang sampah ke sungai atau kali, benar-benar mengesalkan. Tidak heran negara kita menjadi negara paling semerawut dengan sampah, bukan karena ketidak pedulian pemerintah yang memang kurang dalam menyediakan fasilitas pembuangan dan pengolahan sampah, tapi kita masyarakat yang paling berpengaruh menyebabkan negara kita menjadi negara "sampah" dalam arti sesungguhnya karena habit buruk dari kita sendiri.


Walaupun Indonesia bukan negara Islam, tapi adalah negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, mengalahkan negara Arab dimana agama Islam diturunkan.  Sejak jaman TK atau saat mengaji di surau, salah satu yang diajarkan oleh para guru adalah sebuah hadist seruan dari nabi Muhammad SAW: "Jagalah Kebersihan, karena kebersihan adalah sebagian dari Iman". Meningkat ke jenjang SD tagline menjaga kebersihan senantiasa menghiasi ruang kelas.


Aneh bukan, kita muslim, diajarkan sejak kecil tentang kebersihan adalah sebuah keimanan, tapi implementasi tidak sedikitpun mencirikan keimanan sebagai seorang Muslim yang diajarkan sejak kecil. Kita dengan ringan tanpa merasa bersalah atau takut tidak beriman, membuang sampah dimana saja karena sifat ingin gampang dan tidak ribet dan egois ingin property kita bersih tanpa peduli bila property orang lain atau publik penuh dengan sampah yang kita buang. Banyak yang berfikiran, "tidak apa-apa kali cuman buang selembar tisue ke jalan". Bila hanya kita sendirian yang membuang selembar tisue mungkin tidak berpengaruh, tapi bagaimana bila jutaan penduduk Indonesia berprilaku sama membuang tisue ke jalan, hasilnya bisa kita lihat sendiri begitu "indahnya" negara kita dihiasi sampah dimana-mana. 


Mari kita bandingkan dengan negara yang berpenduduk non Muslim tapi semua penduduknya sangat disiplin menjaga kebersihan, sebut saja Jepang atau Singapura, silahkan buktikan saat jalan-jalan ke dua negara tersebut dijamin kita kesulitan menemukan sampah daripada menemukan tempat sampah. Kita yang skeptis akan nyeletuk "itu karena pemerintahnya peduli dengan kebersihan", eits...kita melupakan bahwa pemerintah hanya bagian terkecil dari komunitas sebuah negara, tapi penduduklah bagian terbesar dari komunitas negara, habit yang baik dan kedisiplinan seluruh warganya akan pentingnya menjaga kebersihan yang menjadikan Jepang atau Singapura menjadi contoh  negara dengan tingkat kebersihan dan keberhasilan mengelola sampah terbaik di dunia.


Padahal penduduk Jepang atau Singapura mungkin tidak pernah mengenal atau diajarkan tentang hadist Nabi Muhammad SAW tentang "Menjaga kebersihan adalah bagian dari sebuah Keimanan". Terbayang bila penduduk negara Jepang atau Singapura adalah Muslim, sepertinya Jepang atau Singapura bisa menjadi negara paling "Kinclong" karena semua penduduknya berlomba-lomba menjaga kebersihan karena tambah semangat dicatat oleh malaikat sebagai amal sholeh karena menjaga kebersihan.  


Menjaga kebersihan adalah sebuah contoh kecil dari implementasi keimanan yang hasinya luar biasa membedakan negara Indonesia berpenduduk Muslim dengan negara berpenduduk non Muslim seperti Jepang atau Singapura, belum lagi keimanan lain yang lebih besar seperti menjaga alam dari kerusakan, politik, ekonomi, moneter dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kepentingan publik  sudah diatur sedemikian lengkap dalam agama Islam, silahkan cek Al Quran apalagi Hadist yang banyak sekali jumlahnya mengenai tata kelola dan prilaku muslim yang sempurna senantiasa di hubungkan sebagai sebuah bentuk keimanan kepada Allah.


Masih ingat tulisan saya tentang Durian & Kolesterol? bahwa hukum alam (Sunatullah) bersifat pasti, maka bila sebuah komunitas masyarakat kembali kepada hukum Allah tidak perduli itu muslim atau non muslim dipastikan masyarakat tersebut peradabannya akan maju. Sebaliknya bila masyarakatnya meninggalkan sunatullah seperti penduduk Indonesia walaupun Muslm maka sulit Indonesia untuk maju dalam peradaban. 
MARI MULAI SEKARANG KITA KEMBALI IKUTI 
SUNATULLAH, dimulai dari hal kecil dari sekarang seperti MENJAGA KEBERSIHAN.


Wallahualam bishowab


Salam Semangat, Barokallah sukses untuk sahabat semua.


Budi Cahyadi

ID-DISTRO CLOTHING

CLOTHING FIT FOR HEAVEN

Pakaian adalah kebutuhan pokok manusia yang senantiasa berkembang tidak hanya karena pertumbuhan jumlah penduduk tapi sangat dipengaruhi trend, mode dan teknonologi industry, tapi  pakaian sudah menjadi kebutuhan lifestyle, bahkan saat ini pakaian menjadi salah satu media untuk mengekspresikan diri dengan design dan pesan yang semakin berkembang dan kreatif.

Karena kebutuhan lifestyle inilah Kita kadang tidak menyadari tapi malah bangga dengan apa yang kita pakai walaupun konten atau pesan di pakaian tersebut jelas merusak atau mengajak kepada keburukan seperti; Drugs, Free Sex, Kekerasan, Satanic thought, Violence, War, Ilegal Loging, Trafficking etc,  Fenomena ini telah menjadi gaya hidup  sebagian besar masyarakat kita terutama anak-anak muda generasi penerus yang mungkin pesan-pesan negative tersebut akan merubah mindset dan pola fikir atau pola hidup generasi yang akan datang. 

Produk ID-Distro hadir berupa T-Shirt, Polo Shirt, Jaket, Sweatshirt yang digandrungi anak-anak sampai dewasa. Ciri khas produk ID-Distro adalah pesan  dalam produknya senantiasa bertema kebaikan atau mengingatkan akan fenomena-fenomena buruk yang kerap terjadi di dunia. Kami tidak ingin membawa sedikitpun keburukan untuk konsumen kami apalagi bila produk kami bisa menimbulkan akses negative terhadap prilaku kurang baik. Tagline produk kami “CLOTHING FOR HEAVEN” semoga dengan pesan pakaian yang kami sampaikan dapat membawa kita dan para konsumen berkumpul dalam sebuah komunitas kebaikan.


Konten yang baik hanya akan menjadi propaganda sesaat bila disampaikan dalam media pakaian yang tidak berkualitas, untuk itu ID-Distro hanya memproduksi berkualitas tinggi mulai dari bahan baku kelas satu, kualitas jahit terbaik, jenis dan kualitas painting best high-end sehingga produk ID-Distro dijamin nyaman dipakai dan tahan lama sesuai keabadian pesan kebaikan didalamnya. Produk ID-Distro kami produksi secara terbatas setiap artikelnya, selain menjaga ekslusivitas produk, juga menuntut kami senantiasa terus berinovasi dengan mode, design dan konten terbaik yang ingin kami sampaikan.

Bandung adalah kota pencetus konsep Distro (Distribution Store) dan kota terbesar penghasil produk clothing di Indonesia,  mendorong kami mengeluarkan brand ID-Distro setelah bergabungnya konseptor yang mengcreate konsep yang tepat dalam produk ID-Distro.  Produksi clothing bukanlah hal yang sulit karena sudah bertahun-tahun kami menjadi salah satu basis produksi clothing beberapa brand besar dan terkenal di Bandung, sehingga kualitas senantiasa menjadi focus yang kami jaga. Terus terang kami tidak ingin menjual konten,  tapi kami ingin menghadirkan produk yang berkualitas tinggi dengan nilai kebaikan di dalamnya.

Basis produksi kami berlokasi di Bandung,  didukung konseptor dan designer yang handal, penjahit yang berpengalaman, peralatan lengkap dan tenaga painting (sablon) yang berkompetensi tinggi.

Outlet kami berlokasi di Jl. Dago No. 72 Bandung bergabung dengan Bright Factory Outlet, dengan tempat yang nyaman di lokasi yang strategis mudah dijangkau yang menjadi tujuan utama wisatawan yang berkunjung ke kota Bandung. Selain outlet di Bandung, kami hadirkan pula online store di www.id-distro.com untuk pengunjung yang ingin berbelanja online dengan nyaman dan aman.

Semoga Pakaian kita dapat memepermudah kita menuju Sugra kelak, amin ya Rabbal alamin

Hormat Saya


Budi Cahyadi
(iDistro CEO)

PROPERTY INTERIOR

Tahun 2003 selesai membangun rumah tinggal hasil "design" dan membangun sendiri di sebuah komplek perumahan di Bandung, tugas selanjutnya adalah mengisi interior, mebelair dan furniture. Tidak puas dengan furniture di pasaran yang standar terutama kualitas bahan dan design, saya mengunjungi sebuah showroom interior untuk mendesign isi rumah saya, hasilnya "tersenyum kecut" melihat design keren sesuai keinginan tapi harga bikin istri saya pusing kepala, wajar selepas membangun rumah seluruh tabungan ludes termasuk gaji saya yang jumlah potongannya melebihi sisa gaji yang bisa ditarik. Nekat dan berlebihan dalam membangun rumah ternyata tidak baik loh, jangan ditiru ya...


Dengan dalih ingin furniture customize sesuai ruangan rumah kita, maka jurus kreatif digunakan, majalah interior di obrak-abrik, setiap lewat workshop mebelair berhenti sekadar ngorbrol teknik membuat mebelair, bahan baku yang digunakan, jenis dan teknik fisnishing, cari tukang yang bagus dan hal lainnya yang berhubungan dengan permebelan. 


Setelah merasa cukup, maka mulai urat-oret berlagak jadi designer, lalu cari tukang kayu, bismillah.... hasilnya silahkan lihat foto Kitchen Set rumah saya yang dibuat tahun 2003an.


Lumayanlah untuk hasil design seorang Bankir lulusan Akuntan, sampai sekarang Kitchen Set tersebut kondisinya masih sangat baik, karena dibuat dengan hati dan bahan terbaik. Supaya tidak bosan, Kitchen Set tersebut sudah saya ganti warna selama dua kali.


Proses pembuatan Kitchen Set yang dilakukan di "workshop" garasi rumah yang baru selesai dibangun tersebut ternyata menarik perhatian tetangga yang kemudian ikut "nimbrung" memesan berbagai mebelair, saat itu para tetangga hanya tinggal membeli bahan dan membayar upah tukang kayu dan finishing, tanpa saya mintakan jasa atau profit, bahagia rasanya melihat tetangga mempunyai mebelair dengan desgin mewah hasil rancangan Budi Cahyadi, Sarjana Akuntan ha.ha.ha.ha


Subhanallah ternyata "pesanan gratis" semakin banyak, sampai saya harus bikin list antrian kerjaan. Bapak saya kebetulan adalah yang membangun rumah tinggal saya melihat sebuah peluang bagus, lalu menyarankan untuk "dikomersilkan" dan beliau menawarkan diri untuk memegang tanggung jawab produksinya, Subhanallah, semoga Allah senantiasa merahmati beliau. 


Sejak itulah garasi rumah berubah fungsi menjadi "workshop" mebelair, brand pun dibuat, dengan mengambil nama anak pertama, bismillah maka jadilah bisnis pertama saya SHERISH FURNITURE.
  
To be continued...... 

Sunday, October 30, 2011

PENILAIAN KERJA

Belasan tahun lalu saat saya mulai bekerja, saya benar-benar "idealis" memberikan konstribusi diatas 100% dalam bekerja. Datang paling pagi, pulang paling malam bahkan sampe jadi "doktor" (mondok di kantor hehehe). Saya lakukan itu semata-mata karena benar-benar mencintai pekerjaan, wajar saat itu baru lulus kuliah yang ingin mengaplikasikan hasil kuliah dan belajar komputer karena saat itu baru seumur-umur megang "maenan" baru yang bernama LAPTOP.


Pekerjaan seminggu saya selesaikan dalam satu atau dua hari saja, pekerjaan orang lain terutama senior saya kerjakan. Saya menjelma menjadi "staf idol" karena dengan mudah rekan kerja terutama senior menyerahkan kerjaan mereka kepada saya. Tapi salah satu kelemahan saya adalah kurang begitu "dekat" secara personal dengan para senior karena mereka sering mengajak hal-hal aneh yang bertentangan dengan jiwa idealis saat itu seperti mark up biaya perjalanan dinas, biaya hotel, transport dan lain-lain yang dianggap sebuah kewajaran di zaman ini.


Karena saat itu belum trend KPI (Key Perfomance Indicator) yaitu tools penilaian atas kinerja pegawai, maka saat penilaian kinerja, saya sakit hati karena penilaian kinerja saya oleh atasan di sama ratakan dengan staf lain padahal kinerja mereka  di bawah standar. Mereka sering menyerahkan pekerjaan ke saya, datang mepet waktu, pulang tepat waktu, tidak pernah lembur apalagi jadi "doktor", apalagi bila dihitung dari memo usulan atau konsep, saya pasti juaranya sampai-sampai saya disebut si "Memo" karena hampir tiap hari ada saja Memo usulan yang saya keluarkan kepada atasan saya.


Lalu saya menghadap atasan untuk menanyakan kenapa penilaian kinerja saya disamakan dengan yang lain padahal saya sudah berikan lebih dari 100% dari kewajiban dibanding pegawai lain yang selevel. Jawaban atasan saya "untuk menjaga kondusifitas kerja jadi disamakan saja, yang penting semua lulus dan diangkat jadi pegawai tetap".


Sakit hati saya saat itu, sampai-sampai jadi merubah kebiasaan baik jadi standar sama dengan pegawai lainnya, datang mepet waktu, pulang awal waktu, menghindari lembur apalagi "doktor". Usulan memo atau konsep tetap saya tulis tapi tidak saya keluarkan dan usulkan kepada atasan, saat itu saya berubah jadi "pegawai standar" sama dengan pegawai lainnya. Hasilnya? penilaiah kinerja sudah bisa ditebak yaitu sama saja.


Tiga tahun masa kerja alhamdulillah saya diberikan kesempatan mengikuti pendidikan tentang Ekonomi Syariah selama tiga bulan dengan pemateri hebat konseptor dan penggagas ekonomi syariah di Indonesia, yang "mencuci otak" dan merubah mindset saya tentang makna bekerja sebagai berikut:


Bekerja adalah sebuah aktivitas Ibadah yang bila diniatkan dengan dasar Iman kepada Allah, nilainya sama dengan Jihad Fiisabilillah.. Masya Allah


Setelah niat bekerja dengan dasar Iman, bekerjalah seoptimal mungkin bukan karena melaksanakan kontrak kerja dengan perusahaan tapi karena kita telah singn kontrak dengan Allah, berikan yang terbaik karena Allah menyukai yang terbaik.....


Atasan kita bukan senior atau pejabat yang bisa salah dalam menilai kinerja kita, tapi Allah adalah atasan hakiki kita, karena setiap helaan nafas, setiap detik waktu, setiap niat di hati, setiap gerakan tangan, kaki, mata, telinga kita Allah tahu dan mencatat dalam penilaian kinerja yang tidak mungkin salah.


Sekarang saya sudah tidak bekerja dan memutuskan menjadi wirausaha, Insya Allah konsep bekerja adalah ibadah dan kontrak dengan Allah saya terapkan dalam seluruh bisnis saya, berbisnis dengan jujur, berkarya terbaik, memciptakan produk terbaik, memberikan pelayanan terbaik, bekerjasama menjalin network terbaik semata-mata karena Allah yang akan menilai dan memberikan ganjaran terbaik untuk kita, karena profit terbesar dari bisnis adalah Ridho Allah yang tercurah dari berkah Rizki kepada kita.


Satu hikmah yang patut disyukuri dari bekerja optimal dan bekerja diatas standar adalah ILMU dan pengetahuan yang lebih, bersifat abadi dan pasti bermanfaat untuk kehidupan dan pekerjaan atau bisnis kita.  


Wallahualam bishowab.


Salam Semangat, barokallah sukses untuk sahabat semua


Budi Cahyadi

KARTU ASESKIN VS MOBIL BARU

Beberapa bulan lalu istri saya bercerita tentang musibah yang menimpa seseorang sebutlah namanya Teratai. Ibu kandung Teratai sebutlah namanya bu Dahlia terserang kangker Payudara stadium sudah mencapai tahap diperlukan operasi pengangkatan dengan biaya yang cukup tinggi.


Sahabat dan tetangga lain berempati dengan mengantar Ibu Dahlia ke Rumah Sakit untuk mendapat perawatan terbaik. Sahabat dan tetangga maklum dengan kesibukan suami Teratai atau menantu ibu Dahlia seorang Pejabat perusahaan besar terkenal yang ditempatkan di luar kota berjarak + 60 km dari Kota Bandung sehingga "tidak sempat" mengantar ibu Dahlia ke Rumah Sakit.


Situasi semakin "seru" karena biaya operasi pengangkatan  sebesar + 17 jutaan tidak tersedia membuat Teratai menangis dan curhat kepada sahabat-sahabatnya. Tentu saja sahabat dan tetangga kaget tidak percaya melihat profesi suami Teratai sebagai pejabat tinggi sebuah perusahaan besar yang pasti berpenghasilan besar pula.


Para sahabat sejati Teratai dengan semangat luar biasa tetap membiayai operasi tersebut tanpa berfikir apakah akan diganti oleh suami Teratai atau tidak, yang ada di benak mereka saat itu adalah kesembuhan bu Dahlia yang semakin lama semakin mengkhawatirkan. Tapi pada akhirnya biaya tersebut diganti oleh suami Teratai.


Singkat cerita, alhamdulillah operasi bu Dahlia sukses dan beliau dapat recovery dan merajut hidup normal kembali. Tapi Allah berkehendak lain, beberapa bulan setelah operasi, kondisi kesehatan bu Dahlia kembali memburuk dengan komplikasi penyakit yang semakin hebat seperti paru-paru, liver dan lain-lain yang membuat keluarga Teratai semakin "sibuk" mengurus bu Dahlia.


Tentu saja para sahabat teratai kembali berjibaku membantu dengan tulus untuk kesembuhan bu Dahlia sampai mendapat perawatan terbaik di Rumah Sakit. Saat kondisi sibuk mengurus bu Dahlia, para sahabat dikejutkan dengan berita bahwa bu Dahlia mengajukan Aseskin (Asuransi Kesehatan untuk masyarakat Miskin) untuk membiayai berobat karena sudah tidak "memiliki apa-apa lagi untuk biaya perawatan di rumah sakit".


Bagaimana tidak terkejut, selain suami Teratai atau menantu bu Dahlia adalah pejabat tinggi perusahaan besar juga dalam waktu bersamaan para sahabat mengetahui beliau baru saja mengganti mobilnya dengan model terbaru langsung dari Dealer. Subhanallah.


Para sahabat tidak iri dengan mobil barunya, tapi mereka mengurut dada, mungkin karena kesederhanaan dalam memandang realita hidup "terlalu" dengan hati sehingga hati mereka seolah tidak menerima dalam kondisi ibu terkena musibah sehebat itu sang anak sebagai kerabat terdekat masih bisa menjaga lifestlye dan perfomance sebagai pejabat dalam kemewahan, ironis sang Ibu tergolek lemah di rumah sakit di ruang "kelas barak" dengan biaya "gratis" dari Aseskin tadi. Naudzubillah.....


Cerita sebaliknya, hari kemarin saya mengunjungi customer produk interior saya, seorang ibu muda sebut saja namanya Mawar yang baru mempunyai bayi, terlihat bu Mawar sedang Flu berat. Beliau menceritakan dengan semangat bahwa beliau tidak tidur semalaman menemani sang bayi yang sakit. Dengan berlinang air mata beliau menceritakan penderitaan sang bayi, sampai beliau berdoa dan ridho bila sakit anaknya di pindah ke dirinya saking sayangnya seorang ibu terhadap anaknya.


Sahabat, dari dua cerita tersebut saya merenung sangat dalam dan langsung menelepon ibu saya untuk meminta maaf atas segala kesalahan dan dosa saya sebagai anak kepada ibu. Saya juga berdiskusi panjang dengan istri untuk berkomitmen bertanggung jawab atas hari tua orang tua kami tanpa membedakan status orang tua kandung atau mertua. Kami juga ingin membangun mindset bahwa segala nikmat dunia yang Allah amanahkan kepada kami adalah karena peran, doa dan ridho orang tua, insya Allah kami ikhlas untuk senantiasa membahagiakan orang tua kami dalam kondisi apapun.


Saya katakan kepada istri, "Kita juga akan tua, apakah kita mau anak-anak kita memperlakukan kita di hari tua seperti kejadian yang menimpa bu Dahlia?" tentu tidak bukan, karena sesungguhnya perlakuan baik atau buruk kita terhadap orang tua akan menjadi cerminan perlakuan anak-anak kita terhadap kita kelak.


Sahabat, sesungguhnya "SETETES AIR SUSU IBU YANG KITA ISAP TIDAK AKAN TERGANTIKAN DENGAN GUNUNG EMAS YANG BISA KITA BELI"


Sahabat, sesungguhnya "PENGORBANAN ORANG TUA YANG MENGURUS KITA TIDAK AKAN LUNAS DENGAN SELURUH HARTA DAN JIWA YANG KITA MILIKI"


Sahabat, sesungguhnya "RIDHO ALLAH, ADA PADA RIDHO ORANG TUA, TERUTAMA IBU"


Sahabat, sesungguhnya "TIDAK ADA ARTINYA TINGGI KARIER ATAU BESARNYA BISNIS KITA, BILA ORANG TUA KITA HANYA BISA BANGGA TANPA MERASAKAN"


Banyak sekali firman Allah dan hadist Rosulullah SAW yang menekankan wajibnya anak berbakti terhadap orang tua, salah satunya dalam surat Al Ahqaaf: 15
"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." 


Sahabat, semoga kita menjadi golongan manusia yang berbakti kepada kedua orang tua tanpa melihat apakah orang tua kandung atau mertua, semoga kita dapat berkumpul dengan orang tua kita di surga kelak. Amin yaa Rabbal alaimin


Wallahualam bishowab


Barokallah sukses untuk sahabat semua.


Budi Cahyadi  

Entri Populer