Friday, October 28, 2011

DURIAN & KOLESTEROL

Sekitar tahun 2009 saat melakukan perjalanan dari Depok menuju Kabupaten Bogor, saya berdiskusi dengan orang bapak berusia 50 tahunan yang sangat bijaksana. Kami asyik berdiskusi perihal buah DURIAN yang kebetulan bejejer dijajakan pedagang sepanjang jalan Depok-Bogor. 
Berikut diskusi seru kami:


Bapak:
Jaman dulu tidak ada penyakit yang aneh-aneh seperti sekarang, kolesterol, asam urat, jantung koroner, kanker dan lain-lain. Penyakit kami jaman dulu paling seputar penyakit ringan yang berhubungan dengan fisik luar, sedangkan penyakit dalam jarang kami alami
(mungkin belum dikenal atau ditemukan ya, di benak saya) 


Saya:
Kenapa pak orang-orang jaman dulu lebih terlihat sehat dan umurnya panjang-panjang, dibanding orang-orang zaman sekarang?


Bapak:
Mungkin karena pola hidup dan makanan yang kami konsumsi. 


Saya:
Kenapa ya pak, apakah makanan zaman dulu lebih sehat? padahal zaman sekarang vitamin, mineral dan suplemen kesehatan demikan banyak, tidak seperti dulu, saat saya kecil hanya kenal satu merek vitamin sekarang malah tidak kenal saking banyaknya?


Bapak:
Bapak juga tidak tahu, tapi mungkin karena alasan ini. Contoh buah Durian itu (kata bapak sambil menunjuk buah Durian yang berjejer di jalan). Kami dulu hanya makan Durian saat musimnya saja setahun sekali. Lalu berganti dengan buah Rambutan, Duku, Manggis dan buah lainnya berputar secara teratur setiap tahunnya.
Kami berfikir bahwa Allah sudah merancang siklus alam sedemikian indah dan teratur termasuk pergiliran musim buah-buahan yang dapat kami konsumsi. Contoh, setelah musim Durian berlanjur musim Rambutan atau Manggis, bisa jadi rambutan atau manggis adalah obat antibodi yang disebabkan bahan-bahan yang terkandung dalam Durian.
Tidak seperti zaman sekarang, Durian bisa ditemukan kapan saja tanpa mengenal musim, semua orang bangga dengan hasil rekayasa genetik yang merubah siklus durian berbuah dari setahun sekali menjadi tidak kenal musim.
Semua orang saat ini bisa mengkonsumsi Durian tanpa batas, wajar bila tubuh kita menjadi sarang kolesterol atau asam urat yang ditimbulkan buah Durian, tubuh menjadi tidak bisa mengolah antibodinya karena siklus konsumsi berubah.
Selain Durian, zaman dulu kami tidak mengenal makanan isntant dengan bahan pengawet, makanan kami berbahan sederhana yang alami, bila makan ayam adalah ayam yang kami pelihara dengan alami, tidak seperti sekarang, ayam bisa besar dalam waktu dua puluh lima hari sejak menetas karena di suntik dan diberi konsumsi zat pertumbuhan terus menerus, wajar bila penyakit tumbuh dalam bahan makanan zaman sekarang karena sangat berlebihan.


Saya:
Termenung lama sekali saya, sambil teringat sebuah hadist dari Rosulullah SAW "Segala penyakit bersumber dari Perut (dari apa yang dikonsumsi)".
Selain hadist tersebut saya teringat banyak firman Allah tentang kesempurnaan dan keseimbangan alam semesta yang Allah ciptakan untuk manusia yang disebut Sunatullah.
Hukum alam adalah salah satu Sunatullah yang teratur dan pasti hukumnya. Dan kitalah yang sering merusak sunatullah seperti rekayasa genetika terhadap hewan dan tumbuhan yang menjadi sumber makanan kita, wajar bila sunatullah dirusak maka keseimbangan dunia juga akan rusak dan manusia yang akan merasakan akibatnya.
Seperti firman Allah dalam Al Quran surat Ar Rum: 41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). 


Dari diskusi tersebut, walau perlu penelitian lebih lanjut perihal antibody, saya bertekad akan membuat sebuah bisnis makanan yang halal baik secara zat, proses maupun perolehannya, juga thoyib yaitu sehat karena dibuat dari bahan-bahan terbaik untuk menjadi konsumsi kaum muslimin dan lainnya yang menginginkan halal dan sehat menjadi prioritas utama. Bismillah.... Allahu Akbar, nantikan......


Salam Semangat, Barokallahu Sukses




Budi Cahyadi

No comments:

Post a Comment

Entri Populer